Thursday, 24 November 2011

Jujur, Mutiara yang kian luntur

BY Unknown IN No comments


Jujur, Mutiara yang kian luntur

Oleh : Amir Abdillah

Mendapati sebuah kejujuran dizaman sekarang layaknya mendapatkan air dipadang yang gersang, bagai mutiara dikedalaman lautan yang dalam, seperti mencari bintang dikala langit tertutup mendungnya awan, hanya ada satu diantara seribu pedagang, hanya ada satu diantara seribu pegawai, bahkan hanya ada satu diantara seribu guru, hal yang begitu langka yang hampir hilang keberadaannya karena kerasnya kehidupan dunia.

Tak sedikit yang akhirnya menipu hanya karena ingin menperoleh untung seribu, berbohong hanya karena ingin disebut suka menolong, tidak jujur karena takut jabatannya mundur, akhirnya penipuan, dusta, kedazoliman, korupsi, dan tindak kriminal lainnya merajalela menghantui kehidupan manusia hingga jauh dari rasa aman, tentram, adil dan sejahtera.

Sungguh, sebenarnya pada jauh hari yang telah laIu islam telah memberikan solusi akan hal ini semua, Rasululloh telah memerintahkan kepada seluruh umatnya untuk senantiasa berbuat baik, jujur dalam berbicara, menepati jika berjanji, amanah jika dipercaya dan amalan lain yang senada dengannya.

Rasululloh saw bersabda :

اضْمَنُوا لِي سِتًّا مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَضْمَنْ لَكُمْ الْجَنَّةَ اصْدُقُوا إِذَا حَدَّثْتُمْ وَأَوْفُوا إِذَا وَعَدْتُمْ وَأَدُّوا إِذَا اؤْتُمِنْتُمْ وَاحْفَظُوا فُرُوجَكُمْ وَغُضُّوا أَبْصَارَكُمْ وَكُفُّوا أَيْدِيَكُمْ

“Berikanlah jaminan kepadaku kepadaku dari kalian akan enam hal, niscaya aku akan menjamin surga buat kalian. (1) Jujurlah ketika berbicara, (2) Tepatilah jika kalian berjanji, (3) Tunaikanlah (amanah) jika kalian mendapatkan kepercayaan, (4) Jagalah kemaluan kalian, (5) tundukkanlah pandangan kalian, dan (6) Tahanlah kedua tangan kalian ( dari berbuat dosa ). (Hadits hasan yang diriwaykan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya hadits no. 21695)

Kejujuran adalah pangkal dari semua kebaikan, kebaikan akan membuahkan beribu manfaat dalam kehidupan, tidak hanya untuk diri sendiri tetapi akan merambat pada linkup yang lebih luas, jujur pada diri sendiri berarti mencukupi hak-hak dan keperluaan pribadi secara benar tidak mendzolimi diri sendiri, jujur pada orang lain berarti memberi, mengajarkan dan menyebarkan kebaikan kepada orang lain, jika orang lain kemudian berbuat sama seperti apa yang telah kita perbuat maka kebaikan akan senantiasa berkembang, terus berkembang, dan terus tanpa terputus, berantai hingga memperoleh balasan yang haqiqi berupa kenikmatan dijannah, diakhirat nanti.

Rasululloh saw bersabda tentang hal ini :

إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يُكْتَبَ صِدِّيقًا وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ كَذَّابًا

Sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebajikan, sedangkan kebajikan membawa kepada syurga. Seseorang senantiasa berlaku jujur sehingga Ia ditulis di sisi Alloh sebagai orang yang jujur.” (Hadits shohih diriwayatkan oleh muslim ,no.4719)

Doctor wahbah azzuhaili dalam kitabnya akhlak seorang muslim menyebutkan, jujur adalah keksesuaian antara perkataan dan kejadian, jujur adalah kebiasaan orang beriman, tidak lurus aqidah dan iman seseorang tanpa ada sifat sidq atau jujur, dan tidak akan diterima ibadahnya kecuali dengan memiliki sifat jujur pula, serta tidak sah amal seseorang jika amalannya tidak mengandung unsur sidq atau jujur.

Sejalan dengan hal itu Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Artinya : “ wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar/jujur ( Q.S At-taubah 119 )

Dan dalam ayat lain Alloh subhanahu ta’ala berfirman :

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

Artinya : sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mumin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Alloh, Alloh telah menyediakan ampunan dan pahala yang besar. (Q.S Al-ahzab : 35)

Maka sudah selayaknya bagi kita semua, bagi yang berkeinginan menjadi muslim yang sempurna untuk senantiasa berusaha melazimi sifat yang amat mulia, yang telah dianjurkan oleh Alloh dan Rasulnya bahkan dijanjikan dengan balasan yang luar biasa, pada saat banyak orang lain yang lalai bahkan lupa hingga meninggalkanya, indahnya jika kita bisa menyimpan mutiara kejujuran yang terpancar dalam setiap detik kehidupan. Wallahu a’lam.

Sukoharjo, 17 November 2011

Tuesday, 15 November 2011

ProPic Facebook mu Memalingkan Wajahku

BY Unknown No comments


Oleh Abdul Al-Hafizh

"Astaghfirullah..."
Itulah kata yang pertama kali ku ucapkan ketika melihat beranda Facebookku kemarin sore, seorang akhwat yang menurutku sudah mempunyai pemahaman agama yang sangat baik mengupload foto dirinya sendiri di Facebook.

Sebenarnya akhwat tersebut masih mengenakan jilbabnya dalam foto tersebut, akan tetapi yang sangat disayangkan adalah gaya si akhwat yang dibuat-buat seperti gaya abg masa kini, dan yang lebih parah lagi di foto tersebut telah banyak like dan komentar dari para "ikhwan" yang rata-rata isinya gombal semua.

Sungguh miris hati karena jilbab itu bukan hanya sekedar pakaian yang digunakan untuk menutup diri, tapi jilbab itu juga harusnya berperan dalam pembatasan diri.

"Telah ditulis bagi setiap bani Adam bagiannya dari zina, pasti dia akan melakukannya, kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lidah (lisan) zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang, kaki zinanya adalah melangkah, sementara qalbu berkeinginan dan berangan-angan, maka kemaluanlah yang membenarkan (merealisasikan) hal itu atau mendustakannya". [HR. Al-Bukhori (5889) dari Ibnu Abbas, dan Muslim (2657) dari Abu Hurairah]

Dari hadits di atas dapat kita lihat bahwa zina itu ada berbagai macam/jenis, salah satunya ya melalui pandangan. Pandangan itu sangat berkaitan erat dengan yang namanya grafis/gambar, sehingga foto-foto akhwat-akhwat yang bertebaran di dunia maya itu bisa saja disalah gunakan oleh segelintir orang untuk melakukan zina mata,Naudzubillah...

"Itu kan foto kami, hak kami dong mau memanjangnya, salah sendiri ko ngeliatain...!"

Mungkin ada yang berpikiran seperti itu, akan tetapi kalian juga harus ingat bahwa "Kejahatan itu bukan hanya karena ada niat pelakunya, akan tetapi juga karena adanya kesempatan". Bagaimana bisa seseorang untuk tidak memandang foto anti jika foto itu dipajang lebar-lebar di halaman facebook, toh kalaupun cuma melihat sekilas itu malah bisa membuat yang melihat menjadi karena zina qolbu karena teringat-ingat dengan foto tersebut.

"Lantas bagaimana dong, masa ngga boleh pasang foto FB?"

Kalau masalah memasang foto di FB, menurut ana lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Jadi lebih baik ya ngga usahlah masang foto diri di sana, cukuplah foto yg lain aja. Toh kalaupun masih aja ingin memasang foto di FB, pesan ana cuma satu "Jangan Berlebihan" seperti foto-foto akhwat yang sekarang banyak bergentayangan di FB.

"...Sesunguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (QS. Al-A'raaf [7] : 31)

"Ngga asik banget sih kalo kayak gitu, apa-apa ngga boleh!"

Kata siapa ngga boleh, boleh aja tapi jangan berlebih-lebihan. Ingat FB itu ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi bisa menjadi ladang amal bagi kita, di sisi yang lain bisa juga membuat kita terjerumus dalam jurang kemaksiatan, karena itu "Waspadalah-waspadalah...!"

Sungguh kecantikan dari seorang akhwat itu adalah karunia dan ujian dariNya, jangan deh jadikan kecantikan itu menjadi sebuah pajangan yang bisa dengan mudah dipandang dan dinikmati oleh orang lain yang mungkin sejatinya belum kita kenal dengan baik.

"Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya....” (QS. An-Nuur [24] : 30-31)

Ayat itu turun saat Rasulullah Shalallahu a’laihi wassalam memalingkan muka anak pamannya, al-Fadhl bin Abbas, ketika beliau melihat al-Fadhl berlama-lama memandang wanita Khats’amiyah pada waktu haji.

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa al-Fadhl bertanya kepada Rasulullah Shalallahu a’laihi wassalam, “Mengapa engkau palingkan muka anak pamanmu?” Beliau Shalallahu a’laihi wassalam menjawab, “Saya melihat seorang pemuda dan seorang pemudi, maka saya tidak merasa aman akan gangguan setan terhadap mereka.”

Dari ayat di atas dapat kita simpulkan bahwa bukan hanya kewajiban ikhwan untuk menjaga pandangan, akan tetapi juga kewajiban seorang akhwat untuk menjaga dirinya dan perhiasannya. Karena itu jagalah dirimu, jagalah perhiasanmu.

Persembahkan hanya kepada pendamping hidupmu kelak, jangan jadikan perhiasan itu sebagai pajangan untuk khalayak ramai yang bisa dinikmati dengan mudah oleh siapapun, di manapun dan kapanpun.

BY Unknown No comments

Oleh Abdul Al-Hafizh

"Astaghfirullah..."
Itulah kata yang pertama kali ku ucapkan ketika melihat beranda Facebookku kemarin sore, seorang akhwat yang menurutku sudah mempunyai pemahaman agama yang sangat baik mengupload foto dirinya sendiri di Facebook.

Sebenarnya akhwat tersebut masih mengenakan jilbabnya dalam foto tersebut, akan tetapi yang sangat disayangkan adalah gaya si akhwat yang dibuat-buat seperti gaya abg masa kini, dan yang lebih parah lagi di foto tersebut telah banyak like dan komentar dari para "ikhwan" yang rata-rata isinya gombal semua.

Sungguh miris hati karena jilbab itu bukan hanya sekedar pakaian yang digunakan untuk menutup diri, tapi jilbab itu juga harusnya berperan dalam pembatasan diri.

"Telah ditulis bagi setiap bani Adam bagiannya dari zina, pasti dia akan melakukannya, kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lidah (lisan) zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang, kaki zinanya adalah melangkah, sementara qalbu berkeinginan dan berangan-angan, maka kemaluanlah yang membenarkan (merealisasikan) hal itu atau mendustakannya". [HR. Al-Bukhori (5889) dari Ibnu Abbas, dan Muslim (2657) dari Abu Hurairah]

Dari hadits di atas dapat kita lihat bahwa zina itu ada berbagai macam/jenis, salah satunya ya melalui pandangan. Pandangan itu sangat berkaitan erat dengan yang namanya grafis/gambar, sehingga foto-foto akhwat-akhwat yang bertebaran di dunia maya itu bisa saja disalah gunakan oleh segelintir orang untuk melakukan zina mata,Naudzubillah...

"Itu kan foto kami, hak kami dong mau memanjangnya, salah sendiri ko ngeliatain...!"

Mungkin ada yang berpikiran seperti itu, akan tetapi kalian juga harus ingat bahwa "Kejahatan itu bukan hanya karena ada niat pelakunya, akan tetapi juga karena adanya kesempatan". Bagaimana bisa seseorang untuk tidak memandang foto anti jika foto itu dipajang lebar-lebar di halaman facebook, toh kalaupun cuma melihat sekilas itu malah bisa membuat yang melihat menjadi karena zina qolbu karena teringat-ingat dengan foto tersebut.

"Lantas bagaimana dong, masa ngga boleh pasang foto FB?"

Kalau masalah memasang foto di FB, menurut ana lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Jadi lebih baik ya ngga usahlah masang foto diri di sana, cukuplah foto yg lain aja. Toh kalaupun masih aja ingin memasang foto di FB, pesan ana cuma satu "Jangan Berlebihan" seperti foto-foto akhwat yang sekarang banyak bergentayangan di FB.

"...Sesunguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (QS. Al-A'raaf [7] : 31)

"Ngga asik banget sih kalo kayak gitu, apa-apa ngga boleh!"

Kata siapa ngga boleh, boleh aja tapi jangan berlebih-lebihan. Ingat FB itu ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi bisa menjadi ladang amal bagi kita, di sisi yang lain bisa juga membuat kita terjerumus dalam jurang kemaksiatan, karena itu "Waspadalah-waspadalah...!"

Sungguh kecantikan dari seorang akhwat itu adalah karunia dan ujian dariNya, jangan deh jadikan kecantikan itu menjadi sebuah pajangan yang bisa dengan mudah dipandang dan dinikmati oleh orang lain yang mungkin sejatinya belum kita kenal dengan baik.

"Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya....” (QS. An-Nuur [24] : 30-31)

Ayat itu turun saat Rasulullah Shalallahu a’laihi wassalam memalingkan muka anak pamannya, al-Fadhl bin Abbas, ketika beliau melihat al-Fadhl berlama-lama memandang wanita Khats’amiyah pada waktu haji.

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa al-Fadhl bertanya kepada Rasulullah Shalallahu a’laihi wassalam, “Mengapa engkau palingkan muka anak pamanmu?” Beliau Shalallahu a’laihi wassalam menjawab, “Saya melihat seorang pemuda dan seorang pemudi, maka saya tidak merasa aman akan gangguan setan terhadap mereka.”

Dari ayat di atas dapat kita simpulkan bahwa bukan hanya kewajiban ikhwan untuk menjaga pandangan, akan tetapi juga kewajiban seorang akhwat untuk menjaga dirinya dan perhiasannya. Karena itu jagalah dirimu, jagalah perhiasanmu.

Persembahkan hanya kepada pendamping hidupmu kelak, jangan jadikan perhiasan itu sebagai pajangan untuk khalayak ramai yang bisa dinikmati dengan mudah oleh siapapun, di manapun dan kapanpun.

Thursday, 10 November 2011

Diam

BY Unknown IN No comments


Diam, adalah bentuk kesabaranku Mencintaimu karenaNya
Oleh karenanya, ku pelihara keluhuran Keimananmu, karena Keimananlah yang membuat fitrah ini terpesona kepadamu

Diam, adalah bentuk ketulusanku Mencintaimu karenaNya
Oleh karenanya, ku menjunjung tinggi kehormatanmu, karena kutahu bahwa kehormatan itu bukan untuk dikotori oleh nafsu yang memburu
...
Diam, adalah bentuk keikhlasanku Mencintaimu KarenaNya
Oleh karenanya, ku muliakan kesucianmu, karena aku tahu bahwa tak selayaknya kesucian itu dinodai oleh syahwat yang menggebu

Diam, adalah bentuk keistimewaanku Mencintaimu karenaNya
Oleh karenanya, ku menghargai keshalehanmu, karena aku tak mau menjadikanmu tidak pemalu dihadapan Allah Yang Maha Pencemburu sedangkan Dia mengawasimu

Dan kupelihara kesucian firah itu dengan Ketaqwaan dalam diamku
Berusaha agar bibirku kelu untuk menyatakan itu kepadamu dan berharap agar akupun mampu menaklukkan syahwatku
Bukan hanya karena aku tak ingin memberikan janji tak pasti kepadamu
Tetapi karena aku tak mau syaitan menyentuhmu,
Jika suatu saat ternyata kau adalah pendamping hidupku

Aku mencintaimu karena Allah, maka aku tidak ingin menyatakannya dulu kepadamu
Dan diam adalah caraku mencintaimu karenaNya, ketika aku belum mampu menghargai fitrah suci itu dengan pernikahan

Masya Allah...

Wednesday, 9 November 2011

Diantara dia dan Dia ( Jangan membuat Allah Kecewa dan Cemburu

BY Unknown No comments


Dalam hidup kita sering dihadapkan dengan berbagai pilihan. Diantara ya dan tidak, diantara ini dan itu, diantara surga dan neraka. Hidup haruslah seimbang antara kepentingan kita di dunia dan akhirat. Akan tetapi jika diamati dan di telaah, sekarang ini banyak yang lebih mementingkan kepentingan di dunia,kita lebih menuruti hawa nafsu belaka. Walaupun tidak diperbolehkan dalam agama tetapi tetap saja di langgar. Seakan-akan kita hidup hanya di dunia saja. Padahal hidup kita di dunia hanya sebentar. Mengapa kita tidak sadar akan hari akhir?
Allah menciptakan semuanya kemudian memerintahkan kita untuk bersujud, Tetapi apa yang kita lakukan? Apakah kita sudah bersujud kepada-Nya? sudahkah kita bersyukur? Bayangkan saja jika perintah kita tidak di laksanakan oleh seseorang! kecewakah kita? marahkah kita? lalu apakah kita pernah berfikir kalau Allah kecewa akan tingkah laku kita? Tingkah laku kita yang tidak taat kepada-Nya. Kita telah di beri nikmat yang sungguh luar biasa karena dapat menikmati indahnya dunia ini? Mana ucapan terimakasih kita kepada-Nya?Apa balasan kita kepada-Nya? Ya Allah ampuni hambamu ini yang sering khilaf akan kehidupan dunia yang fana ini.

Kita sering dan bahkan termotivasi hanya karena makhluk Allah, tetapi kita jarang termotivasi karena Allah. Tujuan dan hal-hal yang kita lakukan sering kali bukan semata-mata karena Allah, tetapi karena makhluk Allah. Apakah kita berfikir kalau Allah akan Cemburu? Jika kita dibuat cemburu oleh makhluk Allah yang lain, kita akan sakit hati, marah dan kecewa? Perasaan kita sudah tidak karuan. Lalu, pernahkan kita berfikir tentang-Nya?? Allah yang memberikan segalanya tetapi kita melupakannya. Berubah menjadi begini dan begitu hanya karena makhluk Allah. Kenapa tidak karena Allah???? Kita lebih memilih dia daripada Dia? Ya Allah ampuni hambamu ini.

Friday, 4 November 2011

Lebih kenal dengan Imam Syafi'i

BY Unknown IN No comments

Nama dan Nasab
Beliau bernama Muhammad dengan kun-yah Abu Abdillah. Nasab beliau secara lengkap adalah Muhammad bin Idris bin al-‘Abbas bin ‘Utsman bin Syafi‘ bin as-Saib bin ‘Ubayd bin ‘Abdu Zayd bin Hasyim bin al-Muththalib bin ‘Abdu Manaf bin Qushay. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah pada diri ‘Abdu Manaf bin Qushay. Dengan begitu, beliau masih termasuk sanak kandung Rasulullah karena masih terhitung keturunan paman-jauh beliau , yaitu Hasyim bin al-Muththalib.

Bapak beliau, Idris, berasal dari daerah Tibalah (Sebuah daerah di wilayah Tihamah di jalan menuju ke Yaman). Dia seorang yang tidak berpunya. Awalnya dia tinggal di Madinah lalu berpindah dan menetap di ‘Asqalan (Kota tepi pantai di wilayah Palestina) dan akhirnya meninggal dalam keadaan masih muda di sana. Syafi‘, kakek dari kakek beliau, -yang namanya menjadi sumber penisbatan beliau (Syafi‘i)- menurut sebagian ulama adalah seorang sahabat shigar (yunior) Nabi. As-Saib, bapak Syafi‘, sendiri termasuk sahabat kibar (senior) yang memiliki kemiripan fisik dengan Rasulullah saw. Dia termasuk dalam barisan tokoh musyrikin Quraysy dalam Perang Badar. Ketika itu dia tertawan lalu menebus sendiri dirinya dan menyatakan masuk Islam.

Para ahli sejarah dan ulama nasab serta ahli hadits bersepakat bahwa Imam Syafi‘i berasal dari keturunan Arab murni. Imam Bukhari dan Imam Muslim telah memberi kesaksian mereka akan kevalidan nasabnya tersebut dan ketersambungannya dengan nasab Nabi, kemudian mereka membantah pendapat-pendapat sekelompok orang dari kalangan Malikiyah dan Hanafiyah yang menyatakan bahwa Imam Syafi‘i bukanlah asli keturunan Quraysy secara nasab, tetapi hanya keturunan secara wala’ saja.

Adapun ibu beliau, terdapat perbedaan pendapat tentang jati dirinya. Beberapa pendapat mengatakan dia masih keturunan al-Hasan bin ‘Ali bin Abu Thalib, sedangkan yang lain menyebutkan seorang wanita dari kabilah Azadiyah yang memiliki kun-yah Ummu Habibah. Imam an-Nawawi menegaskan bahwa ibu Imam Syafi‘i adalah seorang wanita yang tekun beribadah dan memiliki kecerdasan yang tinggi. Dia seorang yang faqih dalam urusan agama dan memiliki kemampuan melakukan istinbath.


Waktu dan Tempat Kelahirannya
Beliau dilahirkan pada tahun 150H. Pada tahun itu pula, Abu Hanifah wafat sehingga dikomentari oleh al-Hakim sebagai isyarat bahwa beliau adalah pengganti Abu Hanifah dalam bidang yang ditekuninya.

Tentang tempat kelahirannya, banyak riwayat yang menyebutkan beberapa tempat yang berbeda. Akan tetapi, yang termasyhur dan disepakati oleh ahli sejarah adalah kota Ghazzah (Sebuah kota yang terletak di perbatasan wilayah Syam ke arah Mesir. Tepatnya di sebelah Selatan Palestina. Jaraknya dengan kota Asqalan sekitar dua farsakh). Tempat lain yang disebut-sebut adalah kota Asqalan dan Yaman.

Ibnu Hajar memberikan penjelasan bahwa riwayat-riwayat tersebut dapat digabungkan dengan dikatakan bahwa beliau dilahirkan di sebuah tempat bernama Ghazzah di wilayah Asqalan. Ketika berumur dua tahun, beliau dibawa ibunya ke negeri Hijaz dan berbaur dengan penduduk negeri itu yang keturunan Yaman karena sang ibu berasal dari kabilah Azdiyah (dari Yaman). Lalu ketika berumur 10 tahun, beliau dibawa ke Mekkah, karena sang ibu khawatir nasabnya yang mulia lenyap dan terlupakan.

Pertumbuhannya dan Pengembaraannya Mencari Ilmu
Di Mekkah, Imam Syafi ‘i dan ibunya tinggal di dekat Syi‘bu al-Khaif. Di sana, sang ibu mengirimnya belajar kepada seorang guru. Sebenarnya ibunya tidak mampu untuk membiayainya, tetapi sang guru ternyata rela tidak dibayar setelah melihat kecerdasan dan kecepatannya dalam menghafal. Imam Syafi‘i bercerita, “Di al-Kuttab (sekolah tempat menghafal Alquran), saya melihat guru yang mengajar di situ membacakan murid-muridnya ayat Alquran, maka aku ikut menghafalnya. Sampai ketika saya menghafal semua yang dia diktekan, dia berkata kepadaku, “Tidak halal bagiku mengambil upah sedikitpun darimu.” Dan ternyata kemudian dengan segera guru itu mengangkatnya sebagai penggantinya (mengawasi murid-murid lain) jika dia tidak ada. Demikianlah, belum lagi menginjak usia baligh, beliau telah berubah menjadi seorang guru.

Setelah rampung menghafal Alquran di al-Kuttab, beliau kemudian beralih ke Masjidil Haram untuk menghadiri majelis-majelis ilmu di sana. Sekalipun hidup dalam kemiskinan, beliau tidak berputus asa dalam menimba ilmu. Beliau mengumpulkan pecahan tembikar, potongan kulit, pelepah kurma, dan tulang unta untuk dipakai menulis. Sampai-sampai tempayan-tempayan milik ibunya penuh dengan tulang-tulang, pecahan tembikar, dan pelepah kurma yang telah bertuliskan hadits-hadits Nabi. Dan itu terjadi pada saat beliau belum lagi berusia baligh. Sampai dikatakan bahwa beliau telah menghafal Alquran pada saat berusia 7 tahun, lalu membaca dan menghafal kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik pada usia 12 tahun sebelum beliau berjumpa langsung dengan Imam Malik di Madinah.

Beliau juga tertarik mempelajari ilmu bahasa Arab dan syair-syairnya. Beliau memutuskan untuk tinggal di daerah pedalaman bersama suku Hudzail yang telah terkenal kefasihan dan kemurnian bahasanya, serta syair-syair mereka. Hasilnya, sekembalinya dari sana beliau telah berhasil menguasai kefasihan mereka dan menghafal seluruh syair mereka, serta mengetahui nasab orang-orang Arab, suatu hal yang kemudian banyak dipuji oleh ahli-ahli bahasa Arab yang pernah berjumpa dengannya dan yang hidup sesudahnya. Namun, takdir Allah telah menentukan jalan lain baginya. Setelah mendapatkan nasehat dari dua orang ulama, yaitu Muslim bin Khalid az-Zanji -mufti kota Mekkah-, dan al-Husain bin ‘Ali bin Yazid agar mendalami ilmu fiqih, maka beliau pun tersentuh untuk mendalaminya dan mulailah beliau melakukan pengembaraannya mencari ilmu.

Beliau mengawalinya dengan menimbanya dari ulama-ulama kotanya, Mekkah, seperti Muslim bin Khalid, Dawud bin Abdurrahman al-‘Athar, Muhammad bin Ali bin Syafi’ –yang masih terhitung paman jauhnya-, Sufyan bin ‘Uyainah ahli hadits Mekkah-, Abdurrahman bin Abu Bakar al-Maliki, Sa’id bin Salim, Fudhail bin ‘Iyadh, dan lain-lain. Di Mekkah ini, beliau mempelajari ilmu fiqih, hadits, lughoh, dan Muwaththa’ Imam Malik. Di samping itu beliau juga mempelajari keterampilan memanah dan menunggang kuda sampai menjadi mahir sebagai realisasi pemahamannya terhadap ayat 60 surat Al-Anfal. Bahkan dikatakan bahwa dari 10 panah yang dilepasnya, 9 di antaranya pasti mengena sasaran.

Setelah mendapat izin dari para syaikh-nya untuk berfatwa, timbul keinginannya untuk mengembara ke Madinah, Dar as-Sunnah, untuk mengambil ilmu dari para ulamanya. Terlebih lagi di sana ada Imam Malik bin Anas, penyusun al-Muwaththa’. Maka berangkatlah beliau ke sana menemui sang Imam. Di hadapan Imam Malik, beliau membaca al-Muwaththa’ yang telah dihafalnya di Mekkah, dan hafalannya itu membuat Imam Malik kagum kepadanya. Beliau menjalani mulazamah kepada Imam Malik demi mengambil ilmu darinya sampai sang Imam wafat pada tahun 179. Di samping Imam Malik, beliau juga mengambil ilmu dari ulama Madinah lainnya seperti Ibrahim bin Abu Yahya, ‘Abdul ‘Aziz ad-Darawardi, Athaf bin Khalid, Isma‘il bin Ja‘far, Ibrahim bin Sa‘d dan masih banyak lagi.

Setelah kembali ke Mekkah, beliau kemudian melanjutkan mencari ilmu ke Yaman. Di sana beliau mengambil ilmu dari Mutharrif bin Mazin dan Hisyam bin Yusuf al-Qadhi, serta yang lain. Namun, berawal dari Yaman inilah beliau mendapat cobaan –satu hal yang selalu dihadapi oleh para ulama, sebelum maupun sesudah beliau-. Di Yaman, nama beliau menjadi tenar karena sejumlah kegiatan dan kegigihannya menegakkan keadilan, dan ketenarannya itu sampai juga ke telinga penduduk Mekkah. Lalu, orang-orang yang tidak senang kepadanya akibat kegiatannya tadi mengadukannya kepada Khalifah Harun ar-Rasyid, Mereka menuduhnya hendak mengobarkan pemberontakan bersama orang-orang dari kalangan Alawiyah.

Sebagaimana dalam sejarah, Imam Syafi‘i hidup pada masa-masa awal pemerintahan Bani ‘Abbasiyah yang berhasil merebut kekuasaan dari Bani Umayyah. Pada masa itu, setiap khalifah dari Bani ‘Abbasiyah hampir selalu menghadapi pemberontakan orang-orang dari kalangan ‘Alawiyah. Kenyataan ini membuat mereka bersikap sangat kejam dalam memadamkan pemberontakan orang-orang ‘Alawiyah yang sebenarnya masih saudara mereka sebagai sesama Bani Hasyim. Dan hal itu menggoreskan rasa sedih yang mendalam pada kaum muslimin secara umum dan pada diri Imam Syafi‘i secara khusus. Dia melihat orang-orang dari Ahlu Bait Nabi menghadapi musibah yang mengenaskan dari penguasa. Maka berbeda dengan sikap ahli fiqih selainnya, beliau pun menampakkan secara terang-terangan rasa cintanya kepada mereka tanpa rasa takut sedikitpun, suatu sikap yang saat itu akan membuat pemiliknya merasakan kehidupan yang sangat sulit.

Sikapnya itu membuatnya dituduh sebagai orang yang bersikap tasyayyu‘, padahal sikapnya sama sekali berbeda dengan tasysyu’ model orang-orang syi‘ah. Bahkan Imam Syafi‘i menolak keras sikap tasysyu’ model mereka itu yang meyakini ketidakabsahan keimaman Abu Bakar, Umar, serta ‘Utsman , dan hanya meyakini keimaman Ali, serta meyakini kemaksuman para imam mereka. Sedangkan kecintaan beliau kepada Ahlu Bait adalah kecintaan yang didasari oleh perintah-perintah yang terdapat dalam Alquran maupun hadits-hadits shahih. Dan kecintaan beliau itu ternyata tidaklah lantas membuatnya dianggap oleh orang-orang syiah sebagai ahli fiqih madzhab mereka.

Tuduhan dusta yang diarahkan kepadanya bahwa dia hendak mengobarkan pemberontakan, membuatnya ditangkap, lalu digelandang ke Baghdad dalam keadaan dibelenggu dengan rantai bersama sejumlah orang-orang ‘Alawiyah. Beliau bersama orang-orang ‘Alawiyah itu dihadapkan ke hadapan Khalifah Harun ar-Rasyid. Khalifah menyuruh bawahannya menyiapkan pedang dan hamparan kulit. Setelah memeriksa mereka seorang demi seorang, ia menyuruh pegawainya memenggal kepala mereka. Ketika sampai pada gilirannya, Imam Syafi‘i berusaha memberikan penjelasan kepada Khalifah. Dengan kecerdasan dan ketenangannya serta pembelaan dari Muhammad bin al-Hasan -ahli fiqih Irak-, beliau berhasil meyakinkan Khalifah tentang ketidakbenaran apa yang dituduhkan kepadanya. Akhirnya beliau meninggalkan majelis Harun ar-Rasyid dalam keadaan bersih dari tuduhan bersekongkol dengan ‘Alawiyah dan mendapatkan kesempatan untuk tinggal di Baghdad.

Di Baghdad, beliau kembali pada kegiatan asalnya, mencari ilmu. Beliau meneliti dan mendalami madzhab Ahlu Ra’yu. Untuk itu beliau berguru dengan mulazamah kepada Muhammad bin al-Hassan. Selain itu, kepada Isma‘il bin ‘Ulayyah dan Abdul Wahhab ats-Tsaqafiy dan lain-lain. Setelah meraih ilmu dari para ulama Irak itu, beliau kembali ke Mekkah pada saat namanya mulai dikenal. Maka mulailah ia mengajar di tempat dahulu ia belajar. Ketika musim haji tiba, ribuan jamaah haji berdatangan ke Mekkah. Mereka yang telah mendengar nama beliau dan ilmunya yang mengagumkan, bersemangat mengikuti pengajarannya sampai akhirnya nama beliau makin dikenal luas. Salah satu di antara mereka adalah Imam Ahmad bin Hanbal.

Ketika kamasyhurannya sampai ke kota Baghdad, Imam Abdurrahman bin Mahdi mengirim surat kepada Imam Syafi‘i memintanya untuk menulis sebuah kitab yang berisi khabar-khabar yang maqbul, penjelasan tentang nasikh dan mansukh dari ayat-ayat Alquran dan lain-lain. Maka beliau pun menulis kitabnya yang terkenal, Ar-Risalah.

Setelah lebih dari 9 tahun mengajar di Mekkah, beliau kembali melakukan perjalanan ke Irak untuk kedua kalinya dalam rangka menolong madzhab Ash-habul Hadits di sana. Beliau mendapat sambutan meriah di Baghdad karena para ulama besar di sana telah menyebut-nyebut namanya. Dengan kedatangannya, kelompok Ash-habul Hadits merasa mendapat angin segar karena sebelumnya mereka merasa didominasi oleh Ahlu Ra’yi. Sampai-sampai dikatakan bahwa ketika beliau datang ke Baghdad, di Masjid Jami ‘ al-Gharbi terdapat sekitar 20 halaqah Ahlu Ra ‘yu. Tetapi ketika hari Jumat tiba, yang tersisa hanya 2 atau 3 halaqah saja.

Beliau menetap di Irak selama dua tahun, kemudian pada tahun 197 beliau balik ke Mekkah. Di sana beliau mulai menyebar madzhabnya sendiri. Maka datanglah para penuntut ilmu kepadanya meneguk dari lautan ilmunya. Tetapi beliau hanya berada setahun di Mekkah.

Tahun 198, beliau berangkat lagi ke Irak. Namun, beliau hanya beberapa bulan saja di sana karena telah terjadi perubahan politik. Khalifah al-Makmun telah dikuasai oleh para ulama ahli kalam, dan terjebak dalam pembahasan-pembahasan tentang ilmu kalam. Sementara Imam Syafi‘i adalah orang yang paham betul tentang ilmu kalam. Beliau tahu bagaimana pertentangan ilmu ini dengan manhaj as-salaf ash-shaleh –yang selama ini dipegangnya- di dalam memahami masalah-masalah syariat. Hal itu karena orang-orang ahli kalam menjadikan akal sebagai patokan utama dalam menghadapi setiap masalah, menjadikannya rujukan dalam memahami syariat padahal mereka tahu bahwa akal juga memiliki keterbatasan-keterbatasan. Beliau tahu betul kebencian meraka kepada ulama ahlu hadits. Karena itulah beliau menolak madzhab mereka.

Dan begitulah kenyataannya. Provokasi mereka membuat Khalifah mendatangkan banyak musibah kepada para ulama ahlu hadits. Salah satunya adalah yang dikenal sebagai Yaumul Mihnah, ketika dia mengumpulkan para ulama untuk menguji dan memaksa mereka menerima paham Alquran itu makhluk. Akibatnya, banyak ulama yang masuk penjara, bila tidak dibunuh. Salah satu di antaranya adalah Imam Ahmad bin Hanbal. Karena perubahan itulah, Imam Syafi‘i kemudian memutuskan pergi ke Mesir. Sebenarnya hati kecilnya menolak pergi ke sana, tetapi akhirnya ia menyerahkan dirinya kepada kehendak Allah. Di Mesir, beliau mendapat sambutan masyarakatnya. Di sana beliau berdakwah, menebar ilmunya, dan menulis sejumlah kitab, termasuk merevisi kitabnya ar-Risalah, sampai akhirnya beliau menemui akhir kehidupannya di sana.