Fitnah-Fitnah Akhir Zaman
Kajian tentang fitnah syubhat dan
syahwat
Defenisi
Syahwat dan Syubhat
Syubhat berasal dari bahasa arab
yang artinya, "samar" atau "Rancu". Adapun secara istilah
maknanya adalah segala sesuatu yang tidak jelas dan tidak terjamin nilai
kebenarannya, karena itu cenderung orang yag mengikutinya kepada kebatilan dan
kerugian. Inti sari syubhat adalah pola pemikiran dan konsep keyakinan, yang
berbeda bahkan menyimpang dari arus utama (mainstream) kebenaran, yang selalu
mewarnai, mempegaruhi serta mengendalikan jalan hidup seseorang.
Fitnah syubhat ini disebabkan karena
lemahnya bashirah (Penglihatan) dan sedikit ilmu yang dimiliki seseorang
terhadap apa yang Allah telah mengutus Rosulnya. Allah berfirman,
Didalam tafsir At-Tabhari dijelaskan
bahwa telah datang dari Allah Al-bayan (Penjelasan), namun mereka kaum
musyrikin tidak meyakininya
Adapun syahwat, yang juga merupakan
bahasa arab, berarti dorongan keinginan atau gairah. Adapun secara istilah,
syahwat berarti segala sesuatu yang menjadi pendorong jiwa untuk melakukan
segala hal. Walaupun makna syahwat sebenarnya nnetral, bisa positif maupun
negatife, masyarakat cenderung memberi konotasi yang negative, yakni sesuatu
yang menjadi kepanjangan tangan dari nafsu dan setan yang keduanya identik
dengan keburukan.
Perbedaan antara keduanya adalah
syubhat bisanya terkait dengan aspek keilmuan, pandangan hidup, dan pemikiran
yang menjadi landasan serta dandaran bersikap dan berbuat. Sedangakan syahwat
terkait dengan aspek perasaan yang menjadi penggerak, pendorong, penguat
seseorang untuk menjalankan sikap dan perbuatan yang sudah dilegitimasi oleh
dalil pemikiran tersebut. Dengan kata lain syubhar bersemayam dikepala
sedangkan syahwat bercokol dihati.
Adapun cara kerja keduaanya adalah
seperti virus yang terus merusak tanpa disadari aleh orang yang dijangkitinya.
Sering kali kedua virus ganas ini salaing berkerja sama. Ketika syubhat mampir
dikepala seseorang, kerap kali syahwat akan terpanggil untuk selalu berupaya
merealisasikan apa yang sudah difatwakan oleh syubhat tersebut. Sebaliknya,
ketika muncul dorongan syahwat dari dalam untuk melanggar syareat, maka ia akan
berupaya memanggil syubhat untuk mencarikannya sandaran dalil dan membuat
alasan agar merasa aman dangan mendapat jaminan untk melakoninya.
Ruang Likup
Syubhat dan Syahwat
Syubhat dan
syawat meliputi bidang-bidang aqidah, ibadah, dan akhlak, akidah merupakan
sumber kekuatan eimanan seseorang muslim. Dari kekuatan inilah muncul konsep,
arah dan tuntunan dalan diri seseorang untuk mengaplikasikan jalan hidup yang
sesuai dengan fitrah serta syareat Allah. Bentuk syubhat dan syahwat ini tidak
lain adalah kesyirikan dengan berbagai bentuk dan menifestasinya, serta dengan
berbagi level dengan klasifikasinya.
Contoh syirik akbar seperti
menyembah berhala, meminta kepada kuburan,pohon dan batu keramat,meyakini dan
menjalani praktek perdukunan, memelihara jin, menyimpan jimat, mempersembahkan
sesaji serta mengkultuskan sesama manusia sudah jelas syubhatnya secara
maknawiyah atau sudah jelas keharamannya secara hokum. Tapi contoh kasus sperti
mengagungkan kesengan dunia, silau terhadap dunnia barat, menganut dam
menyebarkan pemikiran sesat, bahkan sekedar mengeluh dan pesimis terhadap
kehidupan, sebenarnya juga merupakan bagian dari fitnah syubhat dan syahwat.
Dibidang ibadah,syubhat dan syahwat
ini tidak lain adalah melakukan bentuk-bentuk ibadah yang tidak ada tuntunannya
dari Rosulullah saw, alias bid'ah. Syubhat ini, seperti diungkapan aleh sufyan
astsauri, paling disukai iblis, karena pelaku maksiat akan bertaubat dari
kemaksiatannya. Sementara pelaku bid'ah tidak akan bertaubat dari kebid'ahannya
karena ia merasa tidak bersalah. Atau sebaliknya syubhat dan syahwat ibadah
bisa berupa kemalasan serta tidak khusu'an beribadah.
Adpun syubhat dan syahwat dibidang
akhlak contohnya adalah pola hidup hidonis-materialistis,pragmatis dan
permisif, jahilah dalam keseharian, serta bermaksiat sepanjang kehidupan.
Misalnya, banyak menonton Tv, kebiasaan merokok, pergaulah bebas dan lain sebagainya.
Keganasam
syubhat dan syahwat
Dilihat dari factor pemicunya yang
sangat dekat dengan manusia bahkan menjadi bagian hidup mereka, syubhat dan
syahwat bisa menjadi firus yang senantiasa menimbulkan bahaya, dari yang paling
ringan sampai yang peling berat. Secara individual, keduanya akan menimbukan
hal-hal yang bisa menghncurkan diori antara lain:
- Tumbunya sikap taklid buta, mengikuti
sesuatu tanpa ilmu.
- Karena taklid, muncul kesesatan, yaitu
tidak dapat membedakan antara yang baik dan yang batil, yang halal dan
yang haram, yang mulia dan hina seta yang utama dan tidak penting.
- Akibat itu adalah mudahnya tergelincir
untuk melakukan perbuatan yang haram tidak menyadari konsekuensinya yang
merugikan.
- Pada saat yang sama akan muncul
kecenderungan untuk mengabaikan nilai-nilai ilahiyah dalam menjalani
kehidupan.
- kalau sudah jauh menyimpang seperti itu,
segala aktivitas hidupnya akan berjalan hanya untuk memenuhi kepuasan
nafsu.
- Dan bila nafsu sudah berkuasa, maka
sunatullah yang berlaku adalah munculnya berbagai kebinasaan dan
kesengseraan hidup didunia serta penderitaan di ahkhirat.
Tidak
ada cara lain untuk menghadapi serbuan syubahat dan syahwat selain selalu
berusaha mati-matian dan habis-habisan dengan gairah keilmuan dan meujahadah
keimanan. Beberapa tips kengkrit yang bisa dilakukan antara lain.
1. Meningkatkan pemahaman dan penhayatan terhadap Islam, dengan
melakukan tarbiyah secar intensif dan berkesinambungan. Misalnya dengan
mengikuti berrbagai kuliah atau kajian keislaman (halaqoh maupun kajian umum),
dan banyak membaca buku-buku islami.
2. Selalu bersikaplah hati-hati (Wara) dan menjauhi segala yang masih
samara samara, tidak jelas antara halal dan haram.
3. Jika menghadapi suatu masalah yang meragukan atau tidak dipahami,
hendaklah selalu bertanya kepada orang yang memiliki otoritas dibidangnya.
Jangan sekalipun memutuskan perkara tanpa ilamu.
4. Tumbuhkan keyakinan, bahwa dunia itu hanyalah kesenangan belaka
yang sementara. Jangan tertipu dengan keuntungan dan kesenangan sesaat dengan
mengorbankan kebahagian yang abadi. Jadikan dunia sebagai jembatan untuk menuju
kebahagian akhirat. Jangan jadikan sebagai tujuan hidup karena ia pasti akan
tertinggal.
5. Berjamaah dengan orang yang shalih dan hindari bergaul dengan
orang-orang yang cinta dunia dan tidak takut berbuat dosa. Karena berjamaah
dengan orang yang shalih merupakan kebutuhab setiap mukmin agar bisa
saling taushiyah, menyuruh berbuat
me'ruf dan mencegah berbuat mungkar. [*]
0 komentar:
Post a Comment