Sunday, 5 May 2013

Memilih pendidikan Ilmu Agama untuk kebahagiaan anak kita

BY Unknown IN No comments

            “Dengar-dengar anak Ibu si Umar dapat rangking satu bu? Nilai terbaik sekabupaten lagi.. benar bu..?” tanya seorang Ibu penjual sayur pada Bu Aisyah, “Alhamdulillah.. saya juga gak nyangka bu..” jawaab Ibu Aisyah sambil tersenyum ramah. “waahh.. hebat dong..” sahut Bu Aminah yang sudah dari tadi memilih sayuran yang akan Ia beli, “Lalu mau dilanjutkan kemana bu..?” sahutnya pada Bu Aisyah, “InsyaAllah mau kepesantren..” jawab Ibu Aisyah singkat.. “Kepesantren..??? apa gak sayang bu? Umar kan pinter, nilainya bagus-bagus, tertinggi sekabupaten lagi, kenapa tidak di masukkan kesekolah negeri favorit aja?? Pertanyaan bernada heran ditanyakan pada Bu Aisyah. Sambil tersenyum Bu Aisyah menjawab, “Enggak bu.. Umar sendiri yang minta, Ia ingin memahami Ilmu agama katanya..”. “ooowhh..” serentak Ibu sang penjual sayur dan Bu Aminah menjawab.
            Fenomena ini tidaklah asing di masyarakat kita, bahkan kita sendiri mungkin adalah salah satu dari mereka yang merasa kurang setuju dengan apa yang dilakukan Bu Aisyah, merasa mubadir dengan kecerdasan anak yang luar biasa, jika akhirnya hanya di masukkan kepesantren saja. Susah mendapatkan pekerjaan, cita-cita menjadi pegawai tidak terwujudkan dan gambaran masa depan suram lainnya menjadi alasan yang menguatkan pertimbangan.
            Memang tidaklah salah menginginkan anak memiliki kesuksesan dalam urusan dunia, mendapatkan pekerjaan yang layak dan meraih kehidupan yang bahagia. Namun menjadi memprihatinkan jika ukuran sukses yang kita pahami hanya diukur dari materi dan dunia yang dimiliki, menjadi pejabat tinggi, meraih kedudukan yang dihormati. Disisi lain pemahaman dengan agamanya, urusan ibadahnya, keyakinan terhadap Allah dan Rasul tidak Ia kuasai dengan benar. Akhirnya banyak yang katanya memiliki Ilmu yang tinggi, menjabat sebagai pejabat namun akhlak dan perbuatannya rusak dan tidak bermartabat. Na’udzubillah..
            Diantara manusia ada yang lebih mengutamakan hal yang dhohir di dunia dan melupakan urusan yang besar tentang akherat atau agama. Akhirnya banyak diantara orang tua yang rela mengeluarkan banyak harta untuk membiayai anaknya les matematika, les komputer, dan ketrampilan lainnya, namun tidak pernah memikirkan bagaimana bacaan Al-Qur’an buah hatinya.
Alangkah baiknya jika kita mau merenungi ayat berikut sehingga kita terhindar dari sikap orang kafir terhadap dunia, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar Ruum: 7)
            Ath Thobari rahimahullah menyebutkan sebuah riwayat dari Ibnu ‘Abbas yang menerangkan mengenai maksud ayat di atas. Yang dimaksud dalam ayat itu adalah orang-orang kafir. Mereka benar-benar mengetahui berbagai seluk beluk dunia. Namun terhadap urusan agama, mereka benar-benar jahil (bodoh). (Tafsir Ath Thobari, 18/462)
Fakhruddin Ar Rozi rahimahullah menjelaskan maksud ayat di atas, “Ilmu mereka hanyalah terbatas pada dunia saja. Namun mereka tak mengetahui dunia dengan sebenarnya. Mereka hanya mengetahui dunia secara lahiriyah saja yaitu mengetahui kesenangan & permainannya yang ada. Mereka tak mengetahui dunia secara batin, yaitu mereka tak tahu bahaya dunia & tak tahu kalau dunia itu terlaknat. Mereka memang hanya mengetahui dunia secara lahir, namun tak mengetahui kalau dunia itu akan fana.” (Mafatihul Ghoib, 12/206)
Penulis Al Jalalain rahimahumallah menafsirkan, “Mereka mengetahui yang zhohir (yang nampak saja dari kehidupan dunia), yaitu mereka mengetahui bagaimana mencari penghidupan mereka melalui perdagangan, pertanian,  pembangunan, bercocok tanam, & selain itu. Sedangkan mereka terhadap akhirat benar-benar lalai.” (Tafsir Al Jalalain, hal. 416)
            Ali bin Abu Tholib radhiyallahu anhu pernah berkata, mengomentari tentang pentingnya Ilmu Agama dan memberikan alasan mengapa Ilmu agama lebih diutamakan dari pada Ilmu lainnya : “Ilmu agama itu jauh lebih baik daripada harta dunia. Hal ini dikarenakan beberapa hal,  yaitu :
1. ilmu agama itu akan menjagamu (dari keburukan-keburukan). Sedangkan harta dunia, engkaulah yang menjaganya.
2. Harta dunia akan berkurang dengan dinafkahkan (dibelanjakan). Sedangkan ilmu agama semakin bertambah dengan diinfakkan (yakni diajarkan dan didakwahkan kpd orang lain).
3. Ilmu Agama mendatangkan amal ketaatan bagi pemiliknya di dalam kehidupan (dunia)nya, dan peristiwa-peristiwa indah sesudah kematiannya. Sedangkan kejadian-kejadian yang ditimbulkan oleh harta dunia akan lenyap dan berakhir bersamaan dengan lenyapnya harta dunia. (Lihat Al-Faqih wa Al-Mutafaqqih karya Al-Khothib Al-Baghdadi I/50, Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim Al-Ashbahani I/80, dan Miftahu Daari as-Sa’aadati, karya Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah I/123).
            Dan yang terakhir, masih Ingatkah kita dengan wasiat Nabi Ya’qub ‘alaihi wa salam kepada anaknya? sebelum beliau meninggal dunia, beliau masih sempat mengingat tentang perkara besar yang dikhawatirkan pada anak keturunannya. Allah subahanahu wa ta’ala berfirman : ”Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput Ya’qub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya. ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalanku?’ Mereka menjawab, ‘kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, yaitu Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan kami (hanya) berserah diri pada-Nya.” (Q.S Albaqarah : 133)
Nabi Ya’qub ‘Alaihi wa salam mengkhawatirkan bagaimana Ibadah anaknya, sesembahan mereka ketika Ia telah tiada, bukan mengkhawatirkan tentang bagaimana mereka mencukupi kehidupan mereka di dunia. Wallahu a’lam bis sowab. [i.moslem]

0 komentar:

Post a Comment