“Dengar-dengar anak Ibu si Umar dapat
rangking satu bu? Nilai terbaik sekabupaten lagi.. benar bu..?” tanya seorang Ibu
penjual sayur pada Bu Aisyah, “Alhamdulillah.. saya juga gak nyangka bu..” jawaab
Ibu Aisyah sambil tersenyum ramah. “waahh.. hebat dong..” sahut Bu Aminah yang
sudah dari tadi memilih sayuran yang akan Ia beli, “Lalu mau dilanjutkan kemana
bu..?” sahutnya pada Bu Aisyah, “InsyaAllah mau kepesantren..” jawab Ibu Aisyah
singkat.. “Kepesantren..??? apa gak sayang bu? Umar kan pinter, nilainya
bagus-bagus, tertinggi sekabupaten lagi, kenapa tidak di masukkan kesekolah
negeri favorit aja?? Pertanyaan bernada heran ditanyakan pada Bu Aisyah. Sambil
tersenyum Bu Aisyah menjawab, “Enggak bu.. Umar sendiri yang minta, Ia ingin
memahami Ilmu agama katanya..”. “ooowhh..” serentak Ibu sang penjual sayur dan
Bu Aminah menjawab.
Fenomena ini tidaklah asing di
masyarakat kita, bahkan kita sendiri mungkin adalah salah satu dari mereka yang
merasa kurang setuju dengan apa yang dilakukan Bu Aisyah, merasa mubadir dengan
kecerdasan anak yang luar biasa, jika akhirnya hanya di masukkan kepesantren
saja. Susah mendapatkan pekerjaan, cita-cita menjadi pegawai tidak terwujudkan
dan gambaran masa depan suram lainnya menjadi alasan yang menguatkan
pertimbangan.
Memang tidaklah salah menginginkan
anak memiliki kesuksesan dalam urusan dunia, mendapatkan pekerjaan yang layak
dan meraih kehidupan yang bahagia. Namun menjadi memprihatinkan jika ukuran
sukses yang kita pahami hanya diukur dari materi dan dunia yang dimiliki, menjadi
pejabat tinggi, meraih kedudukan yang dihormati. Disisi lain pemahaman dengan
agamanya, urusan ibadahnya, keyakinan terhadap Allah dan Rasul tidak Ia kuasai
dengan benar. Akhirnya banyak yang katanya memiliki Ilmu yang tinggi, menjabat
sebagai pejabat namun akhlak dan perbuatannya rusak dan tidak bermartabat.
Na’udzubillah..
Diantara manusia ada yang lebih
mengutamakan hal yang dhohir di dunia dan melupakan urusan yang besar tentang akherat
atau agama. Akhirnya banyak diantara orang tua yang rela mengeluarkan banyak
harta untuk membiayai anaknya les matematika, les komputer, dan ketrampilan
lainnya, namun tidak pernah memikirkan bagaimana bacaan Al-Qur’an buah hatinya.
Alangkah baiknya jika kita
mau merenungi ayat berikut sehingga kita terhindar dari sikap orang kafir
terhadap dunia, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
“Mereka hanya mengetahui yang lahir
(saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah
lalai.”
(QS. Ar Ruum: 7)
Ath
Thobari rahimahullah menyebutkan sebuah riwayat dari Ibnu ‘Abbas yang
menerangkan mengenai maksud ayat di atas. Yang dimaksud dalam ayat itu adalah
orang-orang kafir. Mereka benar-benar mengetahui berbagai seluk beluk dunia.
Namun terhadap urusan agama, mereka benar-benar jahil (bodoh). (Tafsir Ath
Thobari, 18/462)
Fakhruddin Ar Rozi rahimahullah
menjelaskan maksud ayat di atas, “Ilmu mereka hanyalah terbatas pada dunia
saja. Namun mereka tak mengetahui dunia dengan sebenarnya. Mereka hanya
mengetahui dunia secara lahiriyah saja yaitu mengetahui kesenangan &
permainannya yang ada. Mereka tak mengetahui dunia secara batin, yaitu mereka
tak tahu bahaya dunia & tak tahu kalau dunia itu terlaknat. Mereka memang
hanya mengetahui dunia secara lahir, namun tak mengetahui kalau dunia itu akan
fana.” (Mafatihul Ghoib, 12/206)
Penulis Al Jalalain rahimahumallah
menafsirkan, “Mereka mengetahui yang zhohir (yang nampak saja dari kehidupan
dunia), yaitu mereka mengetahui bagaimana mencari penghidupan mereka melalui
perdagangan, pertanian, pembangunan, bercocok tanam, & selain itu.
Sedangkan mereka terhadap akhirat benar-benar lalai.” (Tafsir Al Jalalain, hal.
416)
Ali
bin Abu Tholib radhiyallahu anhu pernah berkata, mengomentari tentang
pentingnya Ilmu Agama dan memberikan alasan mengapa Ilmu agama lebih
diutamakan dari pada Ilmu lainnya : “Ilmu agama itu jauh lebih baik
daripada harta dunia. Hal ini dikarenakan beberapa hal, yaitu :
1. ilmu agama itu akan menjagamu
(dari keburukan-keburukan). Sedangkan harta dunia, engkaulah yang menjaganya.
2. Harta dunia akan berkurang dengan
dinafkahkan (dibelanjakan). Sedangkan ilmu agama semakin bertambah dengan
diinfakkan (yakni diajarkan dan didakwahkan kpd orang lain).
3. Ilmu Agama mendatangkan amal
ketaatan bagi pemiliknya di dalam kehidupan (dunia)nya, dan peristiwa-peristiwa
indah sesudah kematiannya. Sedangkan kejadian-kejadian yang ditimbulkan oleh
harta dunia akan lenyap dan berakhir bersamaan dengan lenyapnya harta dunia. (Lihat Al-Faqih wa
Al-Mutafaqqih karya Al-Khothib Al-Baghdadi I/50, Hilyatul Auliya’ karya Abu
Nu’aim Al-Ashbahani I/80, dan Miftahu Daari as-Sa’aadati, karya Ibnul Qoyyim
Al-Jauziyyah I/123).
Dan
yang terakhir, masih Ingatkah kita dengan wasiat Nabi Ya’qub ‘alaihi wa
salam kepada anaknya? sebelum beliau meninggal dunia, beliau masih sempat
mengingat tentang perkara besar yang dikhawatirkan pada anak keturunannya. Allah
subahanahu wa ta’ala berfirman : ”Apakah kamu menjadi saksi saat maut
akan menjemput Ya’qub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya. ‘Apa yang
kamu sembah sepeninggalanku?’ Mereka menjawab, ‘kami akan menyembah Tuhanmu
dan Tuhan nenek moyangmu, yaitu Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang
Maha Esa dan kami (hanya) berserah diri pada-Nya.” (Q.S Albaqarah : 133)
Nabi
Ya’qub ‘Alaihi wa salam mengkhawatirkan bagaimana Ibadah anaknya,
sesembahan mereka ketika Ia telah tiada, bukan mengkhawatirkan tentang
bagaimana mereka mencukupi kehidupan mereka di dunia. Wallahu a’lam bis
sowab. [i.moslem]
0 komentar:
Post a Comment