Yaa.. anak adalah bagian terindah dalam hidup kita. Memiliki
titipan dari Allah Ta’ala berupa karunia anak adalah sebuah kenikmatan yang
diharapkan oleh seluruh manusia. Hal ini adalah fitrah alamiyah yang dimiliki oleh
setiap hamba. Maka naluri untuk menjaga, melindungi, memberikan yang terbaik,
menjauhkan dari bahaya, dan memenuhi setiap yang dibutuhkannya menjadi suatu
hal yang pasti akan diperjuangkannya. Tak nanggung-nanggung, “Pergi pagi,
pulang petang, perut perih, pala pusing, punggung pegal-pegal, pontang-panting,
penghasilan pas-pasan tetap akan dilakukan”.
Demi anak, orangtua rela lembur walau anak-anaknya telah hanyut
dalam tidur. Demi anak, orangtua rela lapar agar anak-anaknya bisa makan, dan
tumbuh besar. Demi buah hati, orangtua rela ngontrak, karena lebih mengutamakan
biaya pendidikan dan sekolah anak. Apapun akan dilakukan untuk melindungi,
membesarkan dan membahagiakannya. “Rawe-rawe rantas, malang-malang putung”.
Nah, jika demikian kenyataannya tentu tidak ada orangtua yang
menginginkan anaknya menderita dan sengsara, hidup penuh dengan kesusahan dan
memiliki masa depan yang suram. Biasanya setiap orangtua akan berujar, “Biarlah
saya menderita asal anak-anak saya tidak merasakan derita yang orangtuanya
rasakan”. Akhirnya berkorban apa saja asal anak-anaknya bahagia.
Masa depan dunia dan masa depan akherat
Mari berhitung! Manusia normal, ukuran umur jatah hidup umat Nabi
Muhammad Shallallahu ‘alahi wa sallam adalah 60 tahun, hal ini sebagaimana
sabda Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa sallam, “Umur umatku adalah antara 60
hingga 70 tahun. Sedikit dari mereka yang melebihi itu” (H.R at-Tirmudzi (3550),
Ibn Majah (4236), Ibn Hibban (II:96), al-Hakim (II:427). Ibnu Qoyyim Al-Jauzi
membagi umur kita menjadi 5 masa:
1.Masa kanak-kanak; sejak dilahirkan hingga mencapai
umur 15 tahun
2.Masa muda; dari umur 15 tahun hingga mencapai umur
35 tahun
3.Masa dewasa; dari umur 35 tahun hingga mencapai umur
50 tahun
4.Masa tua, dari umur 50 tahun hingga mencapai umur 70
tahun
5.Masa usia lanjut; dari umur 70 tahun hingga akhir
umur yang dikurniakan oleh Allah Ta’ala.
Artinya jika membicarakan masa depan
anak kita di dunia berarti kita membicarakan kehidupan yang 60 – 70 tahun saja,
karena setelah melalui masa-masa hidup di dunia kemudian semua manusia akan
beralih menuju kehidupan akherat yang selamanya. Ya.. selamanya..
Berarti 60 tahun banding selamanya.
Selama itu bermakna tidak ada ujung dan tidak ada jeda, jika ditakdirkan oleh
Allah bahagia maka ia akan mendapatkan kebahagian selamanya, jika sengsara
berarti akan mendapat kesengsaraan selamanya, kecuali bagi orang-orang yang
dirahmati Allah Ta’ala.
Masa depan anak berada pada Orangtua
Jika kita telah mengetahui realita masa depan anak kita, lalu apa
yang akan kita lakukan untuk membekali kehidupan mereka?. Dua realita masa
depan itu hakikatnya bukanlah sebuah pilihan yang harus dipilih salah satu atau
diantara keduanya. Tetapi sejatinya kita harus menyiapkan anak kita agar bisa
bahagia di kehidupan dunia maupun kehidupan akherat. Bahagia 60 tahun dan
kemudian bahagia ribuan tahun, jutaan tahun atau bahkan selamanya di akherat
itu adalah pilihan yang tepat.
Bahaya dan tantangan kehidupan dunia
Tentu tiada kesuksesan yang diraih dengan angan-angan, tiada
kebahagian yang di hasilkan dari sekedar keinginan, semua membutuhkan proses
yang harus dijalani dan perlu disiapkan.Tantangan mendidik dan menyiapkan anak
agar bisa hidup bahagia di dua alam yang berbeda itu tidak mudah dan gampang.
Kita bisa melihat perkembangan anak-anak yang berada di sekitar
kita, lihat pola hidup mereka, apa teman bermain mereka, siapa idola mereka,
apa tuntunan mereka dan bagaimana cara mereka berbusana, berinteraksi dan bekerja.
Tentu kita tidak akan bisa menutup mata, bahwa kodisi masyarakat disekita kita
sangat jauh dari tuntunan kehidupan Islam yang telah Allah jelaskan melalui
Al-Qur’an dan hadits dari Rasul-Nya.
Padahal tanggungjawab itu ada di pundak kita, kita yang akan
ditanya berkaitan dengan itu semua.. ya.. kita selaku orangtua yang menjadi penentu itu
semua. Akankah kita mengantarkan anak kita ke surga, atau justru sebaliknya?.
Secara sadar pilihan yang kedua mungkin tidak akan terjadi, tetapi
bayangkan jika selama ini ternyata tanpa sadar kita telah menyiapkan darah
daging kita untuk menjadi bahan bakar neraka. Membiarkan anak kita hanyut dalam
dunianya, terbawa arus fitnah yang semakin berbahaya, dan akhirnya sulit untuk
diperbaiki atau bahkan menjadi monster yang merugikan diri kita dan keluarga.. Wal
iyyadzu billah.. Kita berlindung dari itu semua.
Maka apa sebenarnya yang harus kita beri dan curahkan kepada
mereka? Ilmu apa yang haus kita bekali untuk buah hati tercinta? Dan bagaimana
cara mengarahkan mereka meraih surga? Mari.. Jauhkan anak kita dari neraka!.
Meniru pendidikan RasulullahRasulullah adalah contoh terbaik bagi setiap muslim, tidaka ada contoh lain yang patut ditiru kecuali Rasulullah. Rasulullah telah berlaku menjadi seorang ayah dan seorang suami yang patut ditiru dan diteladani.
Dalam mendidik Rasulullah senantiasa mencurahkan kecintaannya, memanggil dengan bahasa yang lembut dan menyenangkan, memberi contoh yang baik yang membuat jiwa anak menjadi lebih tenang dan tentram serta bahagia.
Kemudian Rasulullah sangat memperhatikan pendidikan aqidah, lalu pendidikan rukun iman, kemudian pendidikan ibadah dan juga pendidikan akhlak. Kita harus memberikan pengertian kepada anak bahwa sebaik-baiknya anak adalah mereka yang berakhlak mulia.
Selain itu Rasulullah juga mengajarkan kepada anak untuk bersikap ihsan. Ihsan adalah perbuatan manusia melaksanakan seluruh ibadahnya secara baik dan benar. Perbuatan ihsan juga merupakan bentuk interaksi dengan siapapun mahluk Allah. Ihsan disini bisa juga berarti bersungguh-sungguh dalam belajar dan bekerja. Menjauhkan diri dari sifat balas dendam, pemaaf dan berinteraksi dengan baik. Selanjutnya yaitu amanah ,selalu menyampaikan amanah kepada orang lain tanpa mengulur ulur waktu. Kemudian ikhlas, ihklas di setiap langkah, mengihklaskan sesuatu adalah hal yang baik dalam hidup. Lalu kemudiansabar. Karena orang yang sabar adalah orang yang dekat dengan Allah dan sabar adalah kunci dari segalanya dan menuju hidup lebih baik. Itu semua adalah pendiikan karakter yang telah ditempuh dan dilaksanakan oleh Rasulullah Shallalhu ‘alahi wa Sallam.
Dan dari hal penting itu, ada titik tekan yang harus diperhatikan,
yaitu bahwa Rasulullah senantiasa menjadikan Al-Qur’an sebagai hal yang paling
dekat dalam dan senantiasa menghidupkan nuansa
Al-Qur’an dalam kehidupan rumah tangga. Tiada hari yang terlewat tanpa
Al-Qur’an dan tiada waktu yang tersisa kecuali dimanfaatkan untuk berinteraksi
dengan Al-Qur’an. Makna secara umumnya, beliau senantiasa mendahulukan ajaran
Allah, mendahulukan ilmu agama, mendahulukan masa depan akhiranya ketimbang
tertipu dengan sedikit ilmu dunia yang fana.
Untuk memantapkan hal ini, mari kita simak beberapa dalil berikut,
Allah Ta’ala berfirman,
مَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ“Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat maka akan Kami tambah keuntungan itu baginya, dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia maka akan Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia, dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat.” (Qs. Asy-Syura: 20)
لْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا. وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى
“Akan tetapi, kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Qs. Al-A’laa: 16–17)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai anak Adam, beribadahlah sepenuhnya kepada-Ku, niscaya Aku penuhi (hatimu yang ada) di dalam dadamu dengan kekayaan dan Aku penuhi kebutuhanmu. Jika tidak kalian lakukan, niscaya Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan, dan tidak Aku penuhi kebutuhanmu (kepada manusia).'” (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan al-Hakim)
“Barangsiapa yang menjadikan kegelisahan, kegundahan, cita-cita, dan tujuannya hanya satu, yaitu akhirat, maka Allah akan mencukupi semua keinginannya. Barangsiapa yang keinginan dan cita-citanya bercerai-berai kepada keadaan-keadaan dunia, materi duniawi, yang dipikirkan hanya itu saja, maka Allah tidak akan peduli di lembah mana dia binasa.” (HR. Ibnu Majah; sanadnya hasan)
“Barangsiapa yang obsesinya adalah akhirat, tujuannya akhirat, niatnya akhirat, cita-citanya akhirat, maka dia mendapatkan tiga perkara: Allah menjadikan kecukupan di hatinya, Allah mengumpulkan urusannya, dan dunia datang kepada dia dalam keadaan dunia itu hina. Barangsiapa yang obsesinya adalah dunia, tujuannya dunia, niatnya dunia, cita-citanya dunia, maka dia mendapatkan tiga perkara: Allah menjadikan kemelaratan ada di depan matanya, Allah mencerai-beraikan urusannya, dan dunia tidak datang kecuali yang ditakdirkan untuk dia saja.” (Hr. At-Tirmidzi dan lain-lain; hadits shahih)
Nah.. masikah kita ragu dengan pilihan dan cara Rasulullah menentukan masa depan keluarga dan anaknya? Ingat.. Jangan jerumuskan anak kita ke neraka! Hanya dengan kembali kepada Rasul, kembali mementingkan akhirat kita semua akan selamat. Wallahu a’lam.. [Amir Abdillah]

0 komentar:
Post a Comment